Salam sukses!

Beberapa hari lalu – dalam sebuah waktu senggang sambil menenggu sebuah keputusan besar bagi masa depan saya – saya menyempatkan diri kembali membaca buku ‘Sustainable Market-ing Enterprise’-nya Pak Hermawan Kartajaya dengan Philip Kotler yang ada di mobil. Saya masih saja menemukan hal-hal yang menarik yang saya pikir perlu sahabat-sahabat credit union sekalian untuk ikut terinspirasi dan beraksi.

Bagi saya, ada tiga komponen dari sebuah enterprise (perusahaan) yang dinamis, ‘INSPIRATION, CULTURE, INSTITUTION’. Sebuah perusahaan harus mempunyai inspirasi ketika didirikan. Tanpa hal ini, sebuah perusahaan akan cepat habis, karena tidak mempunyai alasan dan cita-cita. Karena itu, di komponen inspirasi ini kita sering mendengar yang namanya ‘mission’ dan ‘vision’.

Banyak orang yang suka memakai kata-kata ini, tapi pengertiannya berbeda-beda. Demikian juga penggunaannya. Sering sama antara keduanya, tercampur atau malah terbalik! Di model SME, terdefinisikan ‘mission’ sebagai bentuk abstraknya ‘WHAT BUSINESS ARE WE IN’. Tanpa mission, sebuah perusahaan tidak mempunyai ‘reason for being’ ketika kali pertama dilahirkan. Sedangkan ‘vision’ adalah bentuk big picture-nya dari Goal yang akan dicapai dalam jangka waktu tertentu.

Tanpa vision, sama saja perusahaan itu tidak mempunyai ‘the future dream’. Kalau mission ditulis terlalu idealis, seperti ‘akan menjadi agent of change of the world’ atau ‘akan membuat kehidupan manusia lebih baik’ maka bentuknya masih abstrak.

Karena itu, penulisan mission harus diteruskan menjadi business yang akan dimasuki. Ini adalah sesuatu yang konkret sebagai pelaksanaan misi tersebut. ‘Agent of change of the world’, misalnya, bisa diterjemahkan jadi bisnis perumahan. Tapi, bisa juga jadi credit union! Lewat pembuatan dan penjualan produk-produk credit union yang ‘sehat dan edukatif’, misalnya, sebuah credit union bisa mengubah sebuah ‘slum community’ menjadi komunitas yang baik.

Tapi, ada juga misi yang ditulis lebih jelas. Misalnya yang sering saya jumpai di credit union, ‘memperbaiki kualitas hidup masyarakat dalam bidang ekonomi’. Maka, uraian bisnisnya lebih sederhana, misalnya ‘produksi produk-produk yang inovatif’. Sedangkan vision adalah gambaran tentang pencapaian atau achievement dalam jangka waktu tertentu.

Yang terkenal adalah bagaimana Presiden John F. Kennedy mencanangkan suatu tekad bahwa orang Amerika harus sudah mendarat di bulan sebelum pergantian dekade 60-an. Visi ini lantas diterjemahkan menjadi goal yang lebih konkret dalam bentuk yang lebih kuantitatif oleh NASA. Jadi, kalau hal ini diterapkan dalam credit union tadi, misalnya, ‘menjadi market leader di bidang keuangan dalam waktu lima tahun’.

Nah, ini mesti diterjemahkan lagi menjadi goal yang harus lebih konkret. Misalnya, market leader sampai 30 persen di bidang tabungan di Nusa Tenggara Timur pada 2015.

Biasanya goal ini lantas dirinci lagi menjadi lebih detail, tentang jenis tabungan, bunga, sistem pengelolaan, benefit, dan kuantitas yang akan ditawarkan dan dijual. Banyak anggapan bahwa mission dan vision adalah sesuatu yang harus indah, idealis, dan sakral. Bung Karno terkenal dengan salah satu ucapannya, ‘Capailah bintang-bintang di langit!’ Bagus sih kedengarannya, tapi sangat tinggi. Bisa memberi inspirasi, tapi mempunyai ruang yang sangat besar untuk penerjemahannya ke hal yang lebih konkret.

Buat suatu perusahaan, apalagi yang belum terlalu besar, termasuk credit union, menurut saya, tidak perlu ‘segitunya kalee!’. Misi John F. Kennedy supaya Amerika tetap menjadi negara superpower di dunia, jangan sampai kalah dari Uni Soviet dan visinya yang jelas lengkap dengan tahun targetnya jauh lebih realistis. Dan, menurut saya, misi dan visi tidak perlu sakral dan tidak bisa berubah! Karena itu, tidak perlu berjangka panjang. Apalagi, kalau industrinya sangat dinamis.

Kalau mau lebih panjang, berarti lebih abstrak dan big picture dan semakin tidak jelas. Akhirnya susah dimengerti stakeholder-nya. Bahkan, karyawan perusahaan pun banyak yang tidak mengerti misi dan visi itu. Cuma indah digantung di kantor! Dan sayangnya ini yang masih banyak terjadi di credit union.

Dalam kurun waktu tertentu, perusahaan perlu memperbaiki misi dan visi, agar perusahaan lebih membumi. Ini harus inline dengan analisis 4C-nya. Kalau ada perubahan landscape bisa saja, misi dan visi berubah. Dan, biasanya rentangan waktu ideal adalah tiga sampai lima tahun untuk sebuah misi dan visi. Jangan terlalu panjang, karena kita tidak akan pernah bisa prediksi yang akan terjadi.

Wong tiga tahun saja sudah susah kok. Zaman sudah berubah. Perubahan berjalan begitu dinamis dan dahsyat, sehingga tiga sampai lima tahun adalah kurun waktu yang ideal.

Bagaimana dengan CULTURE dan INSTITUTION? Saya akan membahasnya dalam beberapa hari mendatang!

Bagaimana pendapat Anda?
Terima kasih dan semoga membawa kebaikan.

OLEH : ANANG TS

http://www.facebook.com/?ref=home#!/profile.php?id=1194530638